Seorang Anak
yang Beruntung
Pada suatu hari ada seorang anak yang bernama
Angca Aldafa, Ia berasal dari daerah pelosok di pulau kecil yang pulaunya
bernama Bangka Belitung. Angca memiliki 4 saudara lainnya, 1 laki-laki yang
paling tua dan 3 perempuan sedangkan Angca adalah anak yang paling terakhir,
dari remaja kakak laki-laki Angca sudah tidak tinggal di rumah orang tuanya
tetapi menetap di rumah neneknya hingga ia menikah barulah kakaknya ini membuat
rumah tidak jauh di belakang rumah neneknya.
Kondisi
keuangan keluarga Angca yang sangat pas-pasan membuat kedua orang tuanya
saling mengulurkan tangan dan kerja banting tulang untuk menghidupi keempat
anaknya ini, hingga pada suatu hari, anak kedua yang perempuan menginjak usia
remaja dan ingin melanjutkan perkuliahan tetapi, perkuliahan di Bangka sangatlah sedikit bisa dibilang jumlahnya
terhitung dengan jari dan juga biayanya sangatlah mahal hingga akhirnya
memutuskan untuk merantau ke tanah Jakarta, dan nasib anak yang ketiga tidak
jauh berbeda dengan nasib anak yang kedua dengan melanjutkan sekolah yang sama
juga di Jakarta beberapa tahun kemudian anak yang keempat juga tidak mau
ketinggalan ia melanjutkan sekolahnya di daerah Jawa Timur, Yapi tepatnya.
Angca
adalah seorang anak yang senang bergaul, contohnya ia pernah di undang seorang
temannya yang mana keluarganya termasuk di kalangan atas. Angca sangat senang
tinggal di sana karena ia ingin sekali merasakan menjadi anak yang berada, ia tinggal
di sana selama tiga hari dan Angca sendiri sangat menikmati tiga hari tersebut,
di sana ia hampir setiap hari makan ayam goreng ia juga diberi uang saku
senilai Rp 10.000 (bagi Angca itu jumlah uang yang banyak).
Hari
minggu pagi Angcapun terbangun, ia baru ingat bahwa hari itu adalah hari yang
ia tunggu-tunggu Angca pun bergegas untuk mandi dan berpakaian seperti biasanya
setelah itu ia berpamitan kepada orang tuanya dengan di bekali uang sakunya
sendiri yang bernilai Rp2.000, ia berjalan menuju rumah temannya setiap ia
berpapasan dengan orang tua yang biasanya menyapu halaman atau hanya sekedar
bersantai di teras rumah ia selalu menyapa dengan ramah, sesekali ada seorang
nenek yang bertanya “mau ke mana”(menggunakan bahasa Bangka) dan Angca juga merespon
dengan ramah “ke rumah temen” (yang juga menggunakan bahasa Bangka), setelah
sampai di salah satu rumah temannya yang bernama Galang.
Iapun
memanggil temannya “Galang, Galang ,oooo lang”(dengan logat bangkanya) beberapa
saat kemudian temannya yang bernama Galang tersebutpun muncul dengan memasang
raut wajah yang gembira, ia kembali masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesadan
seperti hendak mengambil sesuatu dan kembali dengan mebawa peralatan memancing
yang sederhana tetapi lengkap,2 gagang pancingan terbuat dari pohon salak yang
sudah di haluskan sedangkan pelampungnya terbuat dari potongan sandal bekas
yang sudah tidak terpakai lagi dan tempat ikan yang didapatkan menggunakan
kantong plastik bekas.
Setelah
itu Angca dan galangpun mencari cacing untuk umpan memancing, mereka berdua
mencari cacing di daereh tanah yang lembab seperti di tanah kawasan pohon
pisang yang biasa tempat mereka mencari umpan seminggu yang lalu, dan mereka
berduapun berangkat bersama menuju mata air rahasia yang berisi banyak sekali
ikan dan hanya mereka berdua yang mengetahui rahasia tersebut.
Setelah
sampai di tempat mata air yang mereka tuju Angca dan Galangpun mencari tempat
masing-masing, sebenarnya memancing di
mata air yang tenang itu sebenarnya
adalah pekerjaan yang mudah cukup tinggal menunggu dengan sabar hingga ikan
tertipu daya dengan godaan umpan cacing yang sudah di tusuk dengan kail yang
ada di ujung tali pancing yang sudah di ikat kencang.
Beberapa
saat menunggu sedari mereka duduk di tempat masing-masing tadi gagang pancing
yang terbuat dari pohon salak milik galangpun bergerak kearah dalam air ,dengan
cekatan Galang menarik gagang pancingnya dengan mantap bak pemancing
profesional yang biasa ia tonton sendirian, setelah sekian lama beradu kekuatan
dengan ikan yang belum di ketahui identitasnyapun di menangkan oleh Galang,
dengan lega sekaligus bangga iapun mengangkat ikan yang baru di ketahui namanya
setelah di genggam oleh Galang yang ternyata ikan tersebut berjenis ikan gabus
yang besarnya setara dengan tangan orang dewasa.
Angcapun
tak mau ketinggalan ia bergeser sekitar satu meter kekiri dari temat awalnya
karena ia merasa tempat itu adalah tempat yang sangat manjur untuk mendapatkan
ikan, ternyata tebakan Angca benar setelah beberapa saat menuggu ia pun merasa
gagang yang ia pegang seperti ada yang menarik pancingannya beberapa saat
setelah meyakinkan bahwa yang ia dapatkan adalah ikan hidup – bukan ikan mainan
– Angcapun menggunakan sebuah trik untuk mengankat ikan agar tidak terlepas
lagi, dengan cepat Angca menarik gagang pacingnya ke arah kiri agar kail
pancing yang di gigit oleh ikan tersangkut di daerah pipi ikan seelah kiri
dengan kemungkinan itu ikan pasti tidak dapat melepaskan kail pancing yang
telah ia makan. Hoooooaaaaa teriak Angca saat itu karena senang bisa
mendapatkan ikan walaupun tidak sebesar yang ia haraapkan tetapi ia sangat
bersyukur dengan apa yang telah ia dapatkan dengan temannya yang bernama Galang
itu, dan sehabis itu mereka berduapun membawa ikan hasil tangkapan mereka menuju
markas mereka yang berada tidak jauh di belakang rumah Galang.
Nampak dari kejauhan ada sesuatu seperti sebuah pondok yang mana tiap-tiap tiang di ambil dari hutan yang lebih
detail adalah pohon seruk (dalam bahasa bangka), di atapi oleh daun pisang dan
daun kelapa yang di jadikan satu, di alasi oleh daun pisang ataupun dedaunan
yang lainnya untuk menutupi bagian-bagian kecil yang belum tertutupi oleh daun
pisang yang bberbentuk lonjong, dan terakhir pondok tersebut di selimuti oleh
jaring yang biasa di gunakan untuk marung bawang, itu lah markas yang juga
hanya di ketahui oleh mereka berdua bisa disebut juga sebagai rahasia.
Setelah sampai ke markas rahasia, merekapun menaruh ikan yang
telah mereka dapatkan dari memancing di mata air rahasia tersebut, beberapa saat setelah istirahat mereka berdua pergi mencari singkong
di daerah perkebunan singkong yang ada di dekat rumah Galang, mereka mencari singkong untuk di makan bersama ikan
mereka yang sudah menunggu untuk di panggang bersama singkong.
Angca
dan Galang mengedap-endap sambil melirik ke seluruh arah agar tidak ada orang
yang melihat mereka berdua mengambil singkong, dikarenakan pemilik kebun
singkong tersebut di kenal orang karena sifatnya yang tak kunjung hilang yaitu
pemarah.
“Peest,
peest .” bisik Angca pada Galang yang sudah mendahuluinya di depan, Galang yang
sedari tadi sangat was-was tanpa menoleh kebelakang ia menjawab. “ada apa ?”
sambil memasang wajah heran, tetapi belum menghentikan perjalan menuju pohon
singkong terdekat karena ia sudah lapar sekali dan ingin cepat-cepat makan.
“berhenti dulu!” kata Angca kepada temannya itu yang wataknya sangat keras
kepala. Sesaat kemudian Galang berhenti dan menoleh kebelakang mamasang wajah
cemberut. “ada apa sih ?!” mengajukan
pertanyaan tetapi dengan nada kesal. “itu, di belakang kita seperti ada yang
membuntuti kita!” jawab Angca yang saat itu sangat tegang pikirannya sudah
memikirkan apakah yang akan mereka lakukan bila ketahuan, mata Galangpun
meneliti semak-semak yang ada di belakang mereka dan ternyata semak-semak
tersebut bergerak menuju ke arah mereka.
Mata
Angca dan Galangpun semakin membesar seperti ingin copot saja rasanya, Angca
dan Galang tak dapat berbuat apa-apa lagi karena mereka sudah di daerah perkebunan singkong dan
banyak sekali orang yang ada di situ tetapi mereka tidak menyadari kehadiran
kedua anak tersebut yang bermaksud untuk mencurinya. Hati Angca dan Galangpun
berdegup kencang sambil menahan nafas, sedetik berikutnya muncul kepala kucing
da setelah itu keluarlah kkuncing tersebut dari semak-semak tersebut.
Ternyata
yang membuat mereka hampir melepas mata mereka hanyalah kucing yang imut. “huh
!!” dengus kedua anak itu kesal dan setelah itu mereka melanjutkan misi utama
mereka. Galangpun mecoba untuk menarik singong tersebut yang ada di dalam
tanah, tetapi beberapa kali mecoba hasilnya tetap sama gagal, setelah itu
bergantian Angca mecoba untuk menarik singkong itu dengan sekuat tenaga tetapi
hasilnyna tetap saja hasilnya gagal juga, “woi lang sini bantu, tarik pohong
singkongnya sama-sama agar lebih mudah !”keluh Angca kesal melihat temannya
duduk enak-enakan sambil memakan buah jambu yang mereka petik sewaktu
perjalanan tadi. “kenapa gak dari tadi minta batuannya, pas udah susah aja baru
minta tolong, kalau gak bisa ya gak bisa jangan sok-soan bisa.” Jawab Galang
yang ikut-ikutan emosi mendengar keluhan utemannya itu sambil bersiap membantu
menarik pohon singkong yang belum juga belum bergerak sedikpun sedari tadi.
“aku
hitung dari satu sampai tiga setelah itu tarik sama-sama, ok!!” perintah Angca
kepada Galang yang ekspresinya masih merengut dari perdebatan sekilas tadi.
Setelah itu Angcapun memberi instruksi kepada Galang “satu, dua ...tigaa!” kata
Angca memberikan istruksi kepada temannya itu. Setelah selang beberapa detik kemudian
singkong yang sedari tadi tidak bergerak akhirnyapun menyerahkan diri kepada
kedua anak tersebut. “akhirnya...”kata Angca dan Galang serempak lega, karena
singkong yang mereka inginkan akhirnya mereka dapatkan. Setelah tu mereka
berduapun memisahkan singkong dan pohonnya, dan sebagai tanda terimakasih mereka terhadap pemilik kebun singkong itu
Angca
menanam kembali pohon singkongnya dan membawa kabur
singkong yang sudah mereka
dapatkan tadi.
Setelah
sampai di markas, mereka berduapun
mengumpulkan kayu bakar untuk membakar ikan dan singkong yang sudah mereka
kumpulkan sedari pagi tadi. “hei lang!” panggil Angca kepada Galang yang sedang
memungut ranting-ranting yang berjatuhan di dekat pondok tersebut. “ada apa ?”
tanya Galang heran tetapi tetap meneruskan pekerjaan memungut ranting. “itu..”
sambil mengangkat jari telunjukannya ke arah tumpukan ranting yang sudah
menggunung di depan pondok yang mereka panggil sebagai markas rahasia. “itu!
Rantingnya sudah banyak, gak perlu di tambahin lagi, nanti kebanyakan.” Dengan
nada memberi tahu “iya iya ini udah selesai kok.” Dengan nada kesal.
Beberapa
saat setelah mereka bekerja mengumpulkan kayu bakar, Galangpun mengambil minyak
yang ada di dalam markas mereka, sedangkan Angca bertugas untuk menyiapkan api
unggun untuk mereka memanggang ikan dan singkong.
Galangpun
keluar membawa minyak tanah yang ada di
sudut pondok dan menuangkan sedikit demi sedikit sambil memutari tangannya
supaya minyak tersebut mengenai semua ranting yang sudah di tumpuk. Angca
mengeluarkan korek yang mereka beli di toko sembako-bukan toko bangunan-setelah
itu Angca memungut sebuah daun kering yang ada di sekitaran kakinya dan
membakar daun tersebut, beberapa saat setelah membakar, daun tersebutpun mulai
terbakar. setelah agak membesar api yang ada di daun tersebut Angcapun
melepaskan daun ke arah tumpukan kayu bakar agar api yang ada di daun mengenai
kayu yang sudah di lumuri dengan minyak tanah dan... buuuum suara api yang tiba-tiba saja muncul di atas
tumpukan ranting, beberapa saat setelah itu merekapun menusuk ikan dan singkong
dengan ranting yang telah mereka kumpulkam tadi. “akhirnya.. setelah penantian
yang lama makan juga.” Kata Angca yang sedari tadi sudah tidak sabar lagi untuk
menikmati makanan yang walaupun sederhana tetapi sangatlah lezat bagi kedua
anak tersebut.
“wah, aromanya enak banget!” kata Galang yang ikut-ikutan tidak sabar untuk
menyantap makanan sederhana itu. Beberapa saat kemudian, Angcapun mulai
menyadari bahwa ikan da singkong yang mereka bakar sudah matang.
“hei lang, ikan dan singkongnya sudah mateng nih!”
seru Angca kepada Galang yang sedang tidur di dalam markas mereka.
Ternyata Angca dan Galang berganti-gantian untuk
menuggu ikan dan singkong mereka saat di panggang. Galangpun keluar dengan buru-buru
dan hampir saja ia terjatuh ketika keluar dari dalam markas rahasia mereka.
“hehe, udah mateng ya ikan sama singkongnya ?” kata
Galang dengan memasang raut muka seperti malu-malu bertanya kepada Angca.
“iya udah, tapi sekarang kamu ambilkan dulu daun
pisang yang ada di belakang markas kita itu” kata Angca sambil memonyongkan
bibir sekaligus agak mengankat kepalanya ke arah belakang markas mereka.
Setelah itu Galangpun pergi dengan membawa parang yang
ada di dalam markas mereka itu, Galang memilih daun yang lebih bersih dan
ukurannya tidak terlalu besar tidak terlalu kecil dan sehabis itu ia membaginya
menjadi dua bagian.
“nih daunmu, sudah aku pilih tadi daunnya”
“dan ini singkong dengan ikan bakarmu” kata ngca
sambil menyondorkan ikan dan singkong yang masih di tusuk dengan ranting pohon.
Beberapa saat setelah mereka makan, Angca mengajak
Galang untuk pergi mandi di sungai yang terletak dekat dengan mata air rahasia
mereka.
“berenang yuk lang” ajak Angca kepada Galang yang
sedang sambil menghisap kepala ikan yang sebenarnya sudah habis sedari tadi.
“yuk” jawab Galang dengan semangat karena air yang ada
di sana sangatlah menyegarkan tubuh.
Sehabis itu mereka berduapun berangkat menuju kearah
sungai yang mereka obrolkan tadi. Mereka berdua membawa pakaian ganti yang ada
di dalam markas rahasia mereka, sebenarnya jalan menuju ke sungai tersebut
tidak begitu jauh bagi mereka, tetapi jalan menuju sungai tersebut begitu licin
karena hujan tadi malam jadi mereka terpaksa mengambil jalan memutar melewati
mata air rahasia itu.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya kedua anak
tersebutpun sampai di tujuan mereka yaitu air sungai yang sangat segar dan
jernih. Sungai di sana tidak begitu banyak bebatuan seperti sungai yang ada di
daerah lainnya, karena itu mereka sangat senang mandi di sungai tersebut.
Buuuur suara air dikarenakan ada sesuatu yang masuk ke
dalam sungai tersebut, ternyata yang terjun masuk kedalam sungai tersebut
adalah Angca dan Galang. Rupanya sewaktu sampai di tepi sungai mereka langsung
membuka baju dan celana mereka dan hanya menggunakan celana dalam saja.
“huuh, segarnya sungai ini!” seru Angca dengan sedikit
berteriak.
“iya, gak rugi kita capek-capek pergi kesini buat
mandi.” Saut Galang yang juga sangat senang karena tubuh mereka sekarang sudah
segar. “hei ca, gimana kalau kita lomba renang dari tepi sungai sebelah kanan
ini menuju tepi sungai sebelah kiri sana” tantang Galang kepada Angca yang baru
saja muncul dari dalam air.
“ayok, siapa takut!” jawab Angca yang merasa di
remehkan oleh Galang.
Setelah itu mereka menepi ke arah kanan sungai untuk mengambil
ancang-ancang berenang.
“udah siap belum ca?”tanya Galang kepada Angca dengan nada mengejek. “sudah,
memangnya kamu pidato dulu, baru lomba?” kata Angca yang juga menggunakan nada
mengejek kembali kepada Galang yang sudah memasang raut wajah yakin bahwa ia
akan menang melawan Angca.
“yuk
mulai, tapi gimana cara agar tahu mulainya kapan?”tanya Galang kepada Angca.
“gimana kalau kita lempar sama-sama satu batu dan apabila batunya sudah
menyentuh air perlombaan sudah di mulai.”
“ok.”
Jawab Galang kepada Angca yang sedang memungut batu yang ada di depannya. “yap,
sekarang kita lempar sama-sama sekarang!” seru Angca kepada Galang, setelah itu
mereka berdua bersama-sama memegang batu sebesar kepalan mereka sendiri.
“satu,
dua, tiigaaa!” seru mereka berdua bersama-sama sambil melepaskan batu yang ada
di genggaman mereka berdua, dan setelah itu... buuuurr suara Angca dan Galng
melompat ke dalam sungai secara bersamaan.
Jarak
antara tepi sungai sebelah kanan ke tepi sungai kiri kira-kira 9 meter, tetapi
bagi kedua anak ini jika berenang jaraknya sanagtlah pendek. Beberapa saat
kemudian Angca dan Galangpun muncul secara bersamaan.
“yee
aku menang!” suara Angca sambil berteriak, tetapi sehabis itu datang suara lainnya
yang lebih besar dan buat burung-burung yang ada di dalam hutan tersebutpun
beterbangan. “enak saja, aku yang menang!” jawab Galang sambil berteriak.
“waduh,
kamu ini lagi kesurupan ya, teriak sebesar itu mau copot rasanya telinga ku
ini!” jawab Angca sambil memegang telinganya kerena khawatir Galang akan
berteriak lagi. “ iya, iya maaf, tapi aku yang menangkan lomba renang kali ini,
masa dari kemarin kamu terus yang menang!” kata Galang dengan suara sedikit
ngambek.
“iya
deh,iya kali ini kamu yang menang biar puas hati kau tu” jawab Angca sambil
tersenyum. “horeee...ee” teriak Galang yang menggelegar dan semakin sadar bahwa
ia sudah di marahi gara-gara berteriak seperti itu. “baru saja di bilang tadi
udah teriak lagi kamu.” Kata Angca yang sudah sedari tadi menutup telinganya.
“iya
maaf lagi ya aku janji gak bakalan teriak kayak tadi lagi.” Jawab Galang sambil
nyengir ke arah Angca. “iya, iya aku maafin lagi, tapi awas ya kalau kamu
teriak lagi aku gak mau lagi ngalah saat lomba berenang .” kata Angca sambil
melepas perlahan-lahan tangannya dari telinga.
“pulang
yuk udah lama kita di sini.” Ajak Angca kepada Galang yang masih
berenang-renang di sungai tersebut. “ayok, aku juga sudah bosen di sini mulu.”
jawab Galang kepada Angca sambil berjalan menuju tepi sungai.
Beberapa
sat kemudian Angca dan Galang sudah menggunakan pakaian yang mereka bawa dari
markas mereka. Setelah itu merekapun berangkat menuju ke arah rumah
masing-masing, Angca pulang ke rumahnya setelah beristirahat sebentar di teras
rumah Galang.
“aduh
capeknya main tadi, sampai-sampai pegal rasanya seluruh tubuhku.” Kata Angca
mengeluh setelah menuju kamarnya, sambil merebahkan dirinya di atas kasur.
“kira-kira sekarang jam berapa ya?” tanya Angca dalam hati, Angcapun berjalan
menuju ke arah ruang tengah untuk melihat jam. “hah, udah jam setengah satu
sedangkan aku belum shalat, bisa mati aku di marahi mamakku!” seru Angca kaget
melihat jam yang menunjukan jarum pendek di antara angka dua belas dan angka
satu.
Setelah
itu Angca berlari menuju kamarnya dan mengambil sarung yang ada di lemarinya.
Angca pun keluar lagi untuk mengambil sajadah di dalam kamar orang tuanya dan
setelah itu Angca mengambil air whudu dari dalam kamar mandi, beberapa saat
kemudian ia sudah khusuk melaksanakan shalat dzuhur di dalam kamarnya.
“huh
untung saja mamak belum pulang ke rumah, palingan mamak masih berjualan lauk
pauk ke puskesmas yang ada di balai desa.” Kata Angca sambil berjalan menuju
dapur untuk melihat makanan apakah sinag ini di masak oleh mamaknya itu.
Dan
setelah sampai di dapur Angcapun membuka tudung saji khas pulaunya yaitu pulau
Bangka. “wah, hari ini makan telur rebus sambal, dengan sayur pucuk ubi yang
direbus dan cocolnya..... rusip!” seru Angca yang sedari tadi memandang ke arah
makan tersebut.
Beberapa
saat kemudian setelah menatap makanan tersebut Angca langasung mengambil piring
dan nasi yang di masak di kompor bukan di ricecooker yang biasa di gunakan oleh
orang lain. Mamanya Angca menggunakan kompor alasannya adalah agar nasinya lebih cepat matang, karena beliau
harus menjual nasi dan lauk pauk ke puskesmas yang ada di desa sebelah juga,
jadi mamanya Angca tidak sempat untuk menunggu nasi yang sedang di masak oleh
ricecooker.
Angcapun
makan dengan lahap walaupun ia sudah makan sekitaran jam sembilan pagi tadi,
tetapi ia sekarang sangat lapar karena berenang di sungai bersama Galang dan di
pikiran Angca pasti Galangpun sedang makan sekarang. Padahal Galang sekarang
sedang terjebak dalam mimpi buruk yang sungguh mengerikan.
Ternyata
temannya ini setelah sampai di rumah ia langsung tidur di dalam kamarnya, dan
sekarang ia sedang bermimpi ia di kejar oleh hantu api yang ada di dalam hutan,
dan sungguh mengejutkan ia ternyata sedang kepanasanan di dalam kamarnya yang
pengap karena ia belumpet untuk membuka jendela kamarnya.
Setelah
Angca menyelesaikan makannya yang sangat nikmat karena makanan itu adalah
buatan ibunya sendiri, Angcapun tidur di kamarnya, padahal saat itu baru
menunjukan pukul dua menit ke empat puluh. Keesokan harinya, Angcapun bangun
dan ia sangat terejut karena sekarang menunjukan pukul delapan, Angcapun
beranjak dari tempat tidurnya dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah.
Anehnya,
hari itu Angca tidak melihat kedua orangtuanya. Iapun berlari untuk berangkat
sekolah, setelah beberapa saat kemudian ia masih berlari dan tidak mencurigai
dunia yang ia tinggal sekarang, karena ia tida menyadari bahwa tidak ada orang
lain selain dia yang ada.
Angca
masih berlari menuju ke sekolahnya, setelah beberapa menit kemudian iapun
sampai di sekoah dan di sana Angca tidak sama sekali melihat adanya penjaga
sekolah, menurut Angca penjaganya sedang di dalam kamar mandi. Beberapa saat
kemudia, Angcapun baru menyadari bahwa ia tidak melihat adanya teman-temannya
di lapangan upacara.
Angca
berlari lagi menuju ke kelasnya dan tidak melihat adanya teman-teman maupun
guru di situ, ia menggeser badannya sedikit ke kiri dan tidak melihat siapapun
di kamar sebelah. Hati Angcapun berdebar-debar sangat kencang, rasanya pengen
copot saja. Setelah beberapa saat kemudian ia terduduk di dalam ruangan
kelasnya dan saat itu ia mengetahui bahwa sedari tadi ia berlari ia tidak
melihat adanya orang-orang di sekitarnya.
Dengan
rasa perasaan yang sedang bercapur aduk,
Angcapun berdiri sehabis itu ia berlari lagi menuju rumahnya sendiri. Tetapi
setelah setengah perjalanan ia melihat ada sebuah mobil truk di hadapannya yang
melaju kencang dan akhirnya...BRAK.
Sinar
matahari menembus jendela, Angca yang ada di atas tempat tidur rumahnya yang
sedari kemarin belum bangun dan ia duduk di atas tempat tidurnya, iapun
menyadari bahwa yang ia alami tadi adalah sebuah mimpi yang sangat seram, hidup
seorang diri dan merasa kesepian.
Beberapa
saat kemudian Angca mendengan pintu kamarnya terbuka dan muncul sekelompok
orang yang sangat ia sayangi, yaitu adalah keluarganya sendiri. Dan yang
terakhir muncul dua orang membawa kue yang ukurannya tidak begitu besar,
beberapa saat kemudia iapun mendengar suara lirih dari orang yang membawa kue
tersebut, “selamat ulang tahun, kami ucapkan” kata seseorang tersebut yang
ternyata adalah ibunya seendiri yang sedang mmenyanyikan lagu ulang tahun. Dan ternyata
sekelompok itu adalah kakak-kakaknya dan orang yang ada di samping ibunya ialah
bapaknya.
Ternyata
hari itu adalah hari ulang tahun tepatnya pada tanggal sembilan belas juni dua
ribu enam. Setelah itu Angcapun memeluk keluarganya satu-persatu, tangis dan
tawapun pecah di dalam rumah sederhana itu. Dan hanya sedikit orang yang
merasakan apa yang di rasakan.
Angca
sangatlah senang perasaannya tidak bisa lagi di kemdalikan iapun memeluk kedua
orang tuanya dengan sangat erat seperti takut kehilangan keduanya. Hari itupun
adalah hari yang sangat membahagiakan bagi Angca, karena ia sangat senang semua
keluarganya bisa berkumpul.
Dan pesan dari saya adalah...
Pertama,
jangan pernah lupa perjuangan orang tua kalian yang susah payah untuk memberi
makanan untuk kalian.
Kedua, selalu ingatlah keluarga kalian bagaimanapun
keadan kalian. Mau sedang sedih, sedang senang, tetap ingat keluarga kalian.
Dan
yang terakhir janganlah kalian durhaka kepada kedua orang tua kalian, mau bagai
manapun ibu kalian sudah melahirkan kalian.
Itu
saja dari saya dan ingatlah ketiga pesan tersebut , semoga bermanfaat.
Selesai...
