James Derulo's

Portfolio


Seorang Anak yang Beruntung

            Pada suatu hari ada seorang anak yang bernama Angca Aldafa, Ia berasal dari daerah pelosok di pulau kecil yang pulaunya bernama Bangka Belitung. Angca memiliki 4 saudara lainnya, 1 laki-laki yang paling tua dan 3 perempuan sedangkan Angca adalah anak yang paling terakhir, dari remaja kakak laki-laki Angca sudah tidak tinggal di rumah orang tuanya tetapi menetap di rumah neneknya hingga ia menikah barulah kakaknya ini membuat rumah tidak jauh di belakang rumah neneknya.

Kondisi keuangan keluarga Angca yang sangat pas-pasan ­­­­­membuat kedua orang tuanya saling mengulurkan tangan dan kerja banting tulang untuk menghidupi keempat anaknya ini, hingga pada suatu hari, anak kedua yang perempuan menginjak usia remaja dan ingin melanjutkan perkuliahan tetapi, perkuliahan di Bangka  sangatlah sedikit bisa dibilang jumlahnya terhitung dengan jari dan juga biayanya sangatlah mahal hingga akhirnya memutuskan untuk merantau ke tanah Jakarta, dan nasib anak yang ketiga tidak jauh berbeda dengan nasib anak yang kedua dengan melanjutkan sekolah yang sama juga di Jakarta beberapa tahun kemudian anak yang keempat juga tidak mau ketinggalan ia melanjutkan sekolahnya di daerah Jawa Timur, Yapi tepatnya.

Angca adalah seorang anak yang senang bergaul, contohnya ia pernah di undang seorang temannya yang mana keluarganya termasuk di kalangan atas. Angca sangat senang tinggal di sana karena ia ingin sekali merasakan menjadi anak yang berada, ia tinggal di sana selama tiga hari dan Angca sendiri sangat menikmati tiga hari tersebut, di sana ia hampir setiap hari makan ayam goreng ia juga diberi uang saku senilai Rp 10.000 (bagi Angca itu jumlah uang yang banyak).

Hari minggu pagi Angcapun terbangun, ia baru ingat bahwa hari itu adalah hari yang ia tunggu-tunggu Angca pun bergegas untuk mandi dan berpakaian seperti biasanya setelah itu ia berpamitan kepada orang tuanya dengan di bekali uang sakunya sendiri yang bernilai Rp2.000, ia berjalan menuju rumah temannya setiap ia berpapasan dengan orang tua yang biasanya menyapu halaman atau hanya sekedar bersantai di teras rumah ia selalu menyapa dengan ramah, sesekali ada seorang nenek yang bertanya “mau ke mana”(menggunakan bahasa Bangka) dan Angca juga merespon dengan ramah “ke rumah temen” (yang juga menggunakan bahasa Bangka), setelah sampai di salah satu rumah temannya yang bernama Galang.

Iapun memanggil temannya “Galang, Galang ,oooo lang”(dengan logat bangkanya) beberapa saat kemudian temannya yang bernama Galang tersebutpun muncul dengan memasang raut wajah yang gembira, ia kembali masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesadan seperti hendak mengambil sesuatu dan kembali dengan mebawa peralatan memancing yang sederhana tetapi lengkap,2 gagang pancingan terbuat dari pohon salak yang sudah di haluskan sedangkan pelampungnya terbuat dari potongan sandal bekas yang sudah tidak terpakai lagi dan tempat ikan yang didapatkan menggunakan kantong plastik bekas.

Setelah itu Angca dan galangpun mencari cacing untuk umpan memancing, mereka berdua mencari cacing di daereh tanah yang lembab seperti di tanah kawasan pohon pisang yang biasa tempat mereka mencari umpan seminggu yang lalu, dan mereka berduapun berangkat bersama menuju mata air rahasia yang berisi banyak sekali ikan dan hanya mereka berdua yang mengetahui rahasia tersebut.

Setelah sampai di tempat mata air yang mereka tuju Angca dan Galangpun mencari tempat masing-masing,  sebenarnya memancing di mata air yang tenang  itu sebenarnya adalah pekerjaan yang mudah cukup tinggal menunggu dengan sabar hingga ikan tertipu daya dengan godaan umpan cacing yang sudah di tusuk dengan kail yang ada di ujung tali pancing yang sudah di ikat kencang.

Beberapa saat menunggu sedari mereka duduk di tempat masing-masing tadi gagang pancing yang terbuat dari pohon salak milik galangpun bergerak kearah dalam air ,dengan cekatan Galang menarik gagang pancingnya dengan mantap bak pemancing profesional yang biasa ia tonton sendirian, setelah sekian lama beradu kekuatan dengan ikan yang belum di ketahui identitasnyapun di menangkan oleh Galang, dengan lega sekaligus bangga iapun mengangkat ikan yang baru di ketahui namanya setelah di genggam oleh Galang yang ternyata ikan tersebut berjenis ikan gabus yang besarnya setara dengan tangan orang dewasa.

Angcapun tak mau ketinggalan ia bergeser sekitar satu meter kekiri dari temat awalnya karena ia merasa tempat itu adalah tempat yang sangat manjur untuk mendapatkan ikan, ternyata tebakan Angca benar setelah beberapa saat menuggu ia pun merasa gagang yang ia pegang seperti ada yang menarik pancingannya beberapa saat setelah meyakinkan bahwa yang ia dapatkan adalah ikan hidup – bukan ikan mainan – Angcapun menggunakan sebuah trik untuk mengankat ikan agar tidak terlepas lagi, dengan cepat Angca menarik gagang pacingnya ke arah kiri agar kail pancing yang di gigit oleh ikan tersangkut di daerah pipi ikan seelah kiri dengan kemungkinan itu ikan pasti tidak dapat melepaskan kail pancing yang telah ia makan. Hoooooaaaaa teriak Angca saat itu karena senang bisa mendapatkan ikan walaupun tidak sebesar yang ia haraapkan tetapi ia sangat bersyukur dengan apa yang telah ia dapatkan dengan temannya yang bernama Galang itu, dan sehabis itu mereka berduapun membawa ikan hasil tangkapan mereka menuju markas mereka yang berada tidak jauh di belakang rumah Galang.


               Nampak dari kejauhan ada sesuatu seperti sebuah pondok yang mana tiap-tiap tiang di ambil dari hutan yang lebih detail adalah pohon seruk (dalam bahasa bangka), di atapi oleh daun pisang dan daun kelapa yang di jadikan satu, di alasi oleh daun pisang ataupun dedaunan yang lainnya untuk menutupi bagian-bagian kecil yang belum tertutupi oleh daun pisang yang bberbentuk lonjong, dan terakhir pondok tersebut di selimuti oleh jaring yang biasa di gunakan untuk marung bawang, itu lah markas yang juga hanya di ketahui oleh mereka berdua bisa disebut juga sebagai rahasia.
Setelah sampai ke markas rahasia, merekapun menaruh ikan yang telah mereka dapatkan dari memancing di mata air rahasia tersebut, beberapa saat setelah istirahat mereka berdua pergi mencari singkong di daerah perkebunan singkong yang ada di dekat rumah Galang, mereka mencari singkong untuk di makan bersama ikan mereka yang sudah menunggu untuk di panggang bersama singkong.

Angca dan Galang mengedap-endap sambil melirik ke seluruh arah agar tidak ada orang yang melihat mereka berdua mengambil singkong, dikarenakan pemilik kebun singkong tersebut di kenal orang karena sifatnya yang tak kunjung hilang yaitu pemarah.

“Peest, peest .” bisik Angca pada Galang yang sudah mendahuluinya di depan, Galang yang sedari tadi sangat was-was tanpa menoleh kebelakang ia menjawab. “ada apa ?” sambil memasang wajah heran, tetapi belum menghentikan perjalan menuju pohon singkong terdekat karena ia sudah lapar sekali dan ingin cepat-cepat makan. “berhenti dulu!” kata Angca kepada temannya itu yang wataknya sangat keras kepala. Sesaat kemudian Galang berhenti dan menoleh kebelakang mamasang wajah cemberut.  “ada apa sih ?!” mengajukan pertanyaan tetapi dengan nada kesal. “itu, di belakang kita seperti ada yang membuntuti kita!” jawab Angca yang saat itu sangat tegang pikirannya sudah memikirkan apakah yang akan mereka lakukan bila ketahuan, mata Galangpun meneliti semak-semak yang ada di belakang mereka dan ternyata semak-semak tersebut bergerak menuju ke arah mereka.

Mata Angca dan Galangpun semakin membesar seperti ingin copot saja rasanya, Angca dan Galang tak dapat berbuat apa-apa lagi karena mereka  sudah di daerah perkebunan singkong dan banyak sekali orang yang ada di situ tetapi mereka tidak menyadari kehadiran kedua anak tersebut yang bermaksud untuk mencurinya. Hati Angca dan Galangpun berdegup kencang sambil menahan nafas, sedetik berikutnya muncul kepala kucing da setelah itu keluarlah kkuncing tersebut dari semak-semak tersebut.

Ternyata yang membuat mereka hampir melepas mata mereka hanyalah kucing yang imut. “huh !!” dengus kedua anak itu kesal dan setelah itu mereka melanjutkan misi utama mereka. Galangpun mecoba untuk menarik singong tersebut yang ada di dalam tanah, tetapi beberapa kali mecoba hasilnya tetap sama gagal, setelah itu bergantian Angca mecoba untuk menarik singkong itu dengan sekuat tenaga tetapi hasilnyna tetap saja hasilnya gagal juga, “woi lang sini bantu, tarik pohong singkongnya sama-sama agar lebih mudah !”keluh Angca kesal melihat temannya duduk enak-enakan sambil memakan buah jambu yang mereka petik sewaktu perjalanan tadi. “kenapa gak dari tadi minta batuannya, pas udah susah aja baru minta tolong, kalau gak bisa ya gak bisa jangan sok-soan bisa.” Jawab Galang yang ikut-ikutan emosi mendengar keluhan utemannya itu sambil bersiap membantu menarik pohon singkong yang belum juga belum bergerak sedikpun sedari tadi.

“aku hitung dari satu sampai tiga setelah itu tarik sama-sama, ok!!” perintah Angca kepada Galang yang ekspresinya masih merengut dari perdebatan sekilas tadi. Setelah itu Angcapun memberi instruksi kepada Galang “satu, dua ...tigaa!” kata Angca memberikan istruksi kepada temannya itu. Setelah selang beberapa detik kemudian singkong yang sedari tadi tidak bergerak akhirnyapun menyerahkan diri kepada kedua anak tersebut. “akhirnya...”kata Angca dan Galang serempak lega, karena singkong yang mereka inginkan akhirnya mereka dapatkan. Setelah tu mereka berduapun memisahkan singkong dan pohonnya, dan sebagai tanda terimakasih mereka terhadap pemilik kebun singkong itu Angca menanam kembali pohon singkongnya dan membawa kabur singkong yang sudah mereka dapatkan tadi.

Setelah sampai di markas, mereka berduapun mengumpulkan kayu bakar untuk membakar ikan dan singkong yang sudah mereka kumpulkan sedari pagi tadi. “hei lang!” panggil Angca kepada Galang yang sedang memungut ranting-ranting yang berjatuhan di dekat pondok tersebut. “ada apa ?” tanya Galang heran tetapi tetap meneruskan pekerjaan memungut ranting. “itu..” sambil mengangkat jari telunjukannya ke arah tumpukan ranting yang sudah menggunung di depan pondok yang mereka panggil sebagai markas rahasia. “itu! Rantingnya sudah banyak, gak perlu di tambahin lagi, nanti kebanyakan.” Dengan nada memberi tahu “iya iya ini udah selesai kok.” Dengan nada kesal.

Beberapa saat setelah mereka bekerja mengumpulkan kayu bakar, Galangpun mengambil minyak yang ada di dalam markas mereka, sedangkan Angca bertugas untuk menyiapkan api unggun untuk mereka memanggang ikan dan singkong.
Galangpun keluar membawa minyak tanah yang  ada di sudut pondok dan menuangkan sedikit demi sedikit sambil memutari tangannya supaya minyak tersebut mengenai semua ranting yang sudah di tumpuk. Angca mengeluarkan korek yang mereka beli di toko sembako-bukan toko bangunan-setelah itu Angca memungut sebuah daun kering yang ada di sekitaran kakinya dan membakar daun tersebut, beberapa saat setelah membakar, daun tersebutpun mulai terbakar. setelah agak membesar api yang ada di daun tersebut Angcapun melepaskan daun ke arah tumpukan kayu bakar agar api yang ada di daun mengenai kayu yang sudah di lumuri dengan minyak tanah dan... buuuum  suara api yang tiba-tiba saja muncul di atas tumpukan ranting, beberapa saat setelah itu merekapun menusuk ikan dan singkong dengan ranting yang telah mereka kumpulkam tadi. “akhirnya.. setelah penantian yang lama makan juga.” Kata Angca yang sedari tadi sudah tidak sabar lagi untuk menikmati makanan yang walaupun sederhana tetapi sangatlah lezat bagi kedua anak tersebut.

 “wah, aromanya enak banget!” kata Galang yang ikut-ikutan tidak sabar untuk menyantap makanan sederhana itu. Beberapa saat kemudian, Angcapun mulai menyadari bahwa ikan da singkong yang mereka bakar sudah matang.
“hei lang, ikan dan singkongnya sudah mateng nih!” seru Angca kepada Galang yang sedang tidur di dalam markas mereka.
Ternyata Angca dan Galang berganti-gantian untuk menuggu ikan dan singkong mereka saat di panggang. Galangpun keluar dengan buru­-buru dan hampir saja ia terjatuh ketika keluar dari dalam markas rahasia mereka.
“hehe, udah mateng ya ikan sama singkongnya ?” kata Galang dengan memasang raut muka seperti malu-malu bertanya kepada Angca.
“iya udah, tapi sekarang kamu ambilkan dulu daun pisang yang ada di belakang markas kita itu” kata Angca sambil memonyongkan bibir sekaligus agak mengankat kepalanya ke arah belakang markas mereka.
Setelah itu Galangpun pergi dengan membawa parang yang ada di dalam markas mereka itu, Galang memilih daun yang lebih bersih dan ukurannya tidak terlalu besar tidak terlalu kecil dan sehabis itu ia membaginya menjadi dua bagian.
“nih daunmu, sudah aku pilih tadi daunnya”
“dan ini singkong dengan ikan bakarmu” kata ngca sambil menyondorkan ikan dan singkong yang masih di tusuk dengan ranting pohon.
Beberapa saat setelah mereka makan, Angca mengajak Galang untuk pergi mandi di sungai yang terletak dekat dengan mata air rahasia mereka.
“berenang yuk lang” ajak Angca kepada Galang yang sedang sambil menghisap kepala ikan yang sebenarnya sudah habis sedari tadi.
“yuk” jawab Galang dengan semangat karena air yang ada di sana sangatlah menyegarkan tubuh.
Sehabis itu mereka berduapun berangkat menuju kearah sungai yang mereka obrolkan tadi. Mereka berdua membawa pakaian ganti yang ada di dalam markas rahasia mereka, sebenarnya jalan menuju ke sungai tersebut tidak begitu jauh bagi mereka, tetapi jalan menuju sungai tersebut begitu licin karena hujan tadi malam jadi mereka terpaksa mengambil jalan memutar melewati mata air rahasia itu.

Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya kedua anak tersebutpun sampai di tujuan mereka yaitu air sungai yang sangat segar dan jernih. Sungai di sana tidak begitu banyak bebatuan seperti sungai yang ada di daerah lainnya, karena itu mereka sangat senang mandi di sungai tersebut.

Buuuur suara air dikarenakan ada sesuatu yang masuk ke dalam sungai tersebut, ternyata yang terjun masuk kedalam sungai tersebut adalah Angca dan Galang. Rupanya sewaktu sampai di tepi sungai mereka langsung membuka baju dan celana mereka dan hanya menggunakan celana dalam saja.

“huuh, segarnya sungai ini!” seru Angca dengan sedikit berteriak.

“iya, gak rugi kita capek-capek pergi kesini buat mandi.” Saut Galang yang juga sangat senang karena tubuh mereka sekarang sudah segar. “hei ca, gimana kalau kita lomba renang dari tepi sungai sebelah kanan ini menuju tepi sungai sebelah kiri sana” tantang Galang kepada Angca yang baru saja muncul dari dalam air.
“ayok, siapa takut!” jawab Angca yang merasa di remehkan oleh Galang.

Setelah itu mereka menepi ke arah kanan sungai untuk mengambil ancang-ancang berenang. “udah siap belum ca?”tanya Galang kepada Angca dengan nada mengejek. “sudah, memangnya kamu pidato dulu, baru lomba?” kata Angca yang juga menggunakan nada mengejek kembali kepada Galang yang sudah memasang raut wajah yakin bahwa ia akan menang melawan Angca.

“yuk mulai, tapi gimana cara agar tahu mulainya kapan?”tanya Galang kepada Angca. “gimana kalau kita lempar sama-sama satu batu dan apabila batunya sudah menyentuh air perlombaan sudah di mulai.”

“ok.” Jawab Galang kepada Angca yang sedang memungut batu yang ada di depannya. “yap, sekarang kita lempar sama-sama sekarang!” seru Angca kepada Galang, setelah itu mereka berdua bersama-sama memegang batu sebesar kepalan mereka sendiri.

“satu, dua, tiigaaa!” seru mereka berdua bersama-sama sambil melepaskan batu yang ada di genggaman mereka berdua, dan setelah itu... buuuurr suara Angca dan Galng melompat ke dalam sungai secara bersamaan.
Jarak antara tepi sungai sebelah kanan ke tepi sungai kiri kira-kira 9 meter, tetapi bagi kedua anak ini jika berenang jaraknya sanagtlah pendek. Beberapa saat kemudian Angca dan Galangpun muncul secara bersamaan.

“yee aku menang!” suara Angca sambil berteriak, tetapi sehabis itu datang suara lainnya yang lebih besar dan buat burung-burung yang ada di dalam hutan tersebutpun beterbangan. “enak saja, aku yang menang!” jawab Galang sambil berteriak.

“waduh, kamu ini lagi kesurupan ya, teriak sebesar itu mau copot rasanya telinga ku ini!” jawab Angca sambil memegang telinganya kerena khawatir Galang akan berteriak lagi. “ iya, iya maaf, tapi aku yang menangkan lomba renang kali ini, masa dari kemarin kamu terus yang menang!” kata Galang dengan suara sedikit ngambek.

“iya deh,iya kali ini kamu yang menang biar puas hati kau tu” jawab Angca sambil tersenyum. “horeee...ee” teriak Galang yang menggelegar dan semakin sadar bahwa ia sudah di marahi gara-gara berteriak seperti itu. “baru saja di bilang tadi udah teriak lagi kamu.” Kata Angca yang sudah sedari tadi menutup telinganya.

“iya maaf lagi ya aku janji gak bakalan teriak kayak tadi lagi.” Jawab Galang sambil nyengir ke arah Angca. “iya, iya aku maafin lagi, tapi awas ya kalau kamu teriak lagi aku gak mau lagi ngalah saat lomba berenang .” kata Angca sambil melepas perlahan-lahan tangannya dari telinga.

“pulang yuk udah lama kita di sini.” Ajak Angca kepada Galang yang masih berenang-renang di sungai tersebut. “ayok, aku juga sudah bosen di sini mulu.” jawab Galang kepada Angca sambil berjalan menuju tepi sungai.
Beberapa sat kemudian Angca dan Galang sudah menggunakan pakaian yang mereka bawa dari markas mereka. Setelah itu merekapun berangkat menuju ke arah rumah masing-masing, Angca pulang ke rumahnya setelah beristirahat sebentar di teras rumah Galang.

“aduh capeknya main tadi, sampai-sampai pegal rasanya seluruh tubuhku.” Kata Angca mengeluh setelah menuju kamarnya, sambil merebahkan dirinya di atas kasur. “kira-kira sekarang jam berapa ya?” tanya Angca dalam hati, Angcapun berjalan menuju ke arah ruang tengah untuk melihat jam. “hah, udah jam setengah satu sedangkan aku belum shalat, bisa mati aku di marahi mamakku!” seru Angca kaget melihat jam yang menunjukan jarum pendek di antara angka dua belas dan angka satu.

Setelah itu Angca berlari menuju kamarnya dan mengambil sarung yang ada di lemarinya. Angca pun keluar lagi untuk mengambil sajadah di dalam kamar orang tuanya dan setelah itu Angca mengambil air whudu dari dalam kamar mandi, beberapa saat kemudian ia sudah khusuk melaksanakan shalat dzuhur di dalam kamarnya.

“huh untung saja mamak belum pulang ke rumah, palingan mamak masih berjualan lauk pauk ke puskesmas yang ada di balai desa.” Kata Angca sambil berjalan menuju dapur untuk melihat makanan apakah sinag ini di masak oleh mamaknya itu.

Dan setelah sampai di dapur Angcapun membuka tudung saji khas pulaunya yaitu pulau Bangka. “wah, hari ini makan telur rebus sambal, dengan sayur pucuk ubi yang direbus dan cocolnya..... rusip!” seru Angca yang sedari tadi memandang ke arah makan tersebut.

Beberapa saat kemudian setelah menatap makanan tersebut Angca langasung mengambil piring dan nasi yang di masak di kompor bukan di ricecooker yang biasa di gunakan oleh orang lain. Mamanya Angca menggunakan kompor alasannya adalah agar  nasinya lebih cepat matang, karena beliau harus menjual nasi dan lauk pauk ke puskesmas yang ada di desa sebelah juga, jadi mamanya Angca tidak sempat untuk menunggu nasi yang sedang di masak oleh ricecooker.
Angcapun makan dengan lahap walaupun ia sudah makan sekitaran jam sembilan pagi tadi, tetapi ia sekarang sangat lapar karena berenang di sungai bersama Galang dan di pikiran Angca pasti Galangpun sedang makan sekarang. Padahal Galang sekarang sedang terjebak dalam mimpi buruk yang sungguh mengerikan.

Ternyata temannya ini setelah sampai di rumah ia langsung tidur di dalam kamarnya, dan sekarang ia sedang bermimpi ia di kejar oleh hantu api yang ada di dalam hutan, dan sungguh mengejutkan ia ternyata sedang kepanasanan di dalam kamarnya yang pengap karena ia belumpet untuk membuka jendela kamarnya.

Setelah Angca menyelesaikan makannya yang sangat nikmat karena makanan itu adalah buatan ibunya sendiri, Angcapun tidur di kamarnya, padahal saat itu baru menunjukan pukul dua menit ke empat puluh. Keesokan harinya, Angcapun bangun dan ia sangat terejut karena sekarang menunjukan pukul delapan, Angcapun beranjak dari tempat tidurnya dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah.

Anehnya, hari itu Angca tidak melihat kedua orangtuanya. Iapun berlari untuk berangkat sekolah, setelah beberapa saat kemudian ia masih berlari dan tidak mencurigai dunia yang ia tinggal sekarang, karena ia tida menyadari bahwa tidak ada orang lain selain dia yang ada.

Angca masih berlari menuju ke sekolahnya, setelah beberapa menit kemudian iapun sampai di sekoah dan di sana Angca tidak sama sekali melihat adanya penjaga sekolah, menurut Angca penjaganya sedang di dalam kamar mandi. Beberapa saat kemudia, Angcapun baru menyadari bahwa ia tidak melihat adanya teman-temannya di lapangan upacara.
Angca berlari lagi menuju ke kelasnya dan tidak melihat adanya teman-teman maupun guru di situ, ia menggeser badannya sedikit ke kiri dan tidak melihat siapapun di kamar sebelah. Hati Angcapun berdebar-debar sangat kencang, rasanya pengen copot saja. Setelah beberapa saat kemudian ia terduduk di dalam ruangan kelasnya dan saat itu ia mengetahui bahwa sedari tadi ia berlari ia tidak melihat adanya orang-orang di sekitarnya.

Dengan rasa perasaan  yang sedang bercapur aduk, Angcapun berdiri sehabis itu ia berlari lagi menuju rumahnya sendiri. Tetapi setelah setengah perjalanan ia melihat ada sebuah mobil truk di hadapannya yang melaju kencang dan akhirnya...BRAK.
Sinar matahari menembus jendela, Angca yang ada di atas tempat tidur rumahnya yang sedari kemarin belum bangun dan ia duduk di atas tempat tidurnya, iapun menyadari bahwa yang ia alami tadi adalah sebuah mimpi yang sangat seram, hidup seorang diri dan merasa kesepian.

Beberapa saat kemudian Angca mendengan pintu kamarnya terbuka dan muncul sekelompok orang yang sangat ia sayangi, yaitu adalah keluarganya sendiri. Dan yang terakhir muncul dua orang membawa kue yang ukurannya tidak begitu besar, beberapa saat kemudia iapun mendengar suara lirih dari orang yang membawa kue tersebut, “selamat ulang tahun, kami ucapkan” kata seseorang tersebut yang ternyata adalah ibunya seendiri yang sedang mmenyanyikan lagu ulang tahun. Dan ternyata sekelompok itu adalah kakak-kakaknya dan orang yang ada di samping ibunya ialah bapaknya.
Ternyata hari itu adalah hari ulang tahun tepatnya pada tanggal sembilan belas juni dua ribu enam. Setelah itu Angcapun memeluk keluarganya satu-persatu, tangis dan tawapun pecah di dalam rumah sederhana itu. Dan hanya sedikit orang yang merasakan apa yang di rasakan.

Angca sangatlah senang perasaannya tidak bisa lagi di kemdalikan iapun memeluk kedua orang tuanya dengan sangat erat seperti takut kehilangan keduanya. Hari itupun adalah hari yang sangat membahagiakan bagi Angca, karena ia sangat senang semua keluarganya bisa berkumpul.

 Dan pesan dari saya adalah...
Pertama, jangan pernah lupa perjuangan orang tua kalian yang susah payah untuk memberi makanan untuk kalian.

Kedua,  selalu ingatlah keluarga kalian bagaimanapun keadan kalian. Mau sedang sedih, sedang senang, tetap ingat keluarga kalian.

Dan yang terakhir janganlah kalian durhaka kepada kedua orang tua kalian, mau bagai manapun ibu kalian sudah melahirkan kalian.

Itu saja dari saya dan ingatlah ketiga pesan tersebut , semoga bermanfaat.

Selesai...


cerita sekilas seni
Angca aldafa

Hasil gambar untuk foto lukisan

Assalamualaikum wr.wb.

         saya di sini ingin berbagi cerita tentang awal mula saya mengikuti kelas seni yang ada di sekolah saya yaitu SMP TIK Mizan. pertama yang saya gambar ketika mengikuti kelas seni adalah membuat gambar bola tiga dimensi yang di beri tugas dari guru saya yang bernama Mr.Alwi. saya sangat berterima kasih dengan sekolah saya dan juga guru saya karena sudah meberi pelajaran  seni lukis kepada saya. dan saya sekarang dalam tahap menggambar wajah seseorang dan setelah itu bagian inti yaitu melukis.

itu saja dari saya assalamualaikum wr.wb


cerita singkat saya


        perkenalkan nama saya Angca aldafa, saya berasal dari daerah terpencil yaitu pulau Bangka. keluarga saya sendiri tidak termasuk keluarga yang berada, kerana ekonomi keluarga saya sendiri sangat berkecukupan, kedua orang tua saya harus banting tulang untuk menghidupi kelima anaknya termasuk saya sendiri. dulu sewaktu saya masih menduduki bangku Sekolah Dasar, saya sangat tidak mensyukuri apa yang telah di berikan orang tua saya kepada saya. sekarang saya baru mennyadari betapa susahnya orang tua saya mencari uang untuk memenuhi apa yang saya inginkan seperti mainan yang sebenarnya hanya untuk menghibur diri saya sendiri dan disni saya ucapkan penyesalan saya kepada anda semua yang melihat cerita saya ini.

itu saja dari saya dan pesan dari saya janganah kalian menyusahkan orang tua kalian hanya untuk kesenangan anda saja, sayangilah kedua orang tua anda bagai manapun rupa fisik dan sifatnya itu tetap orang tua anda.